Belajar dengan Ekspresi

June 17, 2010 at 12:01 am (Music)

Wah, rasanya udah lama banget gue nggak posting blog. Belakangan ini gue emang agak sibuk sih, ada yang lagi digarap demi mencapai masa depan yang sudah hampir buram, hehehe…

Walaupun gue sendiri awalnya bingung mau nulis apa kali ini?? Tapi tiba-tiba gue punya ide buat nulis sesuatu tentang musik. Yap, ini juga jadi postingan pertama gue di kategori “musik” dan setelah gue pikir-pikir kok aneh ya gue yang suka banget sama musik tapi malah nggak nulis sesuatu tentang musik :D

Ini bukan cerita tentang teori bermusik atau sejenisnya, tapi ini lebih ke cerita tentang “wisata” musik gue selama ini. Belakangan ini gue punya rutinitas baru, yaitu nonton acara musik Jazz di Jazz Mben Senen, setiap senin malam di pelataran Bentara Budaya, Jogja. Acara ini didukung sama komunitas musisi jazz Yogyakarta. Dari lubuk hati yang paling dalam sebagai pecinta jazz, gue mau bilang kalo acara ini Keren Banget. Ada yang nyangka gue bakal cerita tentang acara ini?? Weiits, ntar dulu, gue di sini nggak cerita tentang acara itu secara keseluruhan, soalnya kalo cuma kata-kata rasanya nggak cukup buat ngegambarin betapa kerennya acara itu, hehehe… Dateng aja sendiri kalo mau tau!!!

Di sini gue mau cerita salah satu bagian kecil dari acara itu, yang gue sendiri dapet cerita ini dari temen gue. Ini tentang cara perform seorang musisi di depan penonton. Setelah nonton Jazz Mben Senen kemarin (14/06/10), temen gue komentar salah satu penampilan dari drummer di sana. Oh iya, gue sendiri salah seorang yang berminat dan sedang mempelajari alat musik itu, makanya dia ceritanya ke gue. Dia bilang salah satu drummer yang malam itu tampil (sebut saja si A), mainnya nggak asik dan terkesan kaku. Padahal gue tau banget kalo tuh drummer secara skill bagus banget, dan bahkan waktu acara NgaYogJazz kemaren dia jadi pengiring Dewa Budjana dan Dwiki Darmawan. Pernyataan gue yang bilang dia bagus nggak hanya karena dia tampil jadi pengiring musisi keren, tapi secara pribadi sebenarnya gue sendiri dulu (sempet) diajarin sama dia. Secara teori dan praktek gue akui dia hebat banget. Tapi kenapa temen gue itu bilang kalo penampilan dia kaku dan gak enak diliat???

Temen gue itu juga bilang, beda dengan drummer yang sebelumnya yang mainnya terlihat lebih rileks dan menyenangkan. Kata temen gue, yang drummer kaku ini seolah-olah nggak menikmati penampilannya dan cenderung seperti orang mikir. Beda dengan yang sebelumnya (sebut saja dia B), mainnya lebih asik dilihat dan menghibur. Oke, dari yang gue amati ada “sumting wrong” di sini. Maksudnya, secara skill si drummer A tadi emang bagus banget, tapi ternyata kalau untuk menghibur penonton si drummer B lah pemenangnya. Jadi kesimpulan gue adalah ternyata NGGAK harus menjadi JAGO untuk bisa terlihat KEREN. Dari kacamata sesama musisi memang drummer A lebih terlihat keren dan hebat, tapi kalau dilihat dari kacamata orang awam, maksudnya orang yang hanya bisa menikmati musik dari penampilannya, itu nggak harus keren secara skill, cukup tampil dengan ekspresi yang menyenangkan aja, hehehe…. Nanti dari situ penonton juga akan terhibur, walaupun mainnya tak sehebat drummer lainnya, tapi si musisi bisa “menyatu” dengan penonton, nggak terpaku dengan pertunjukkan skill semata.

Nice, bisa jadi bahan pertimbangan dan hiburan juga buat para drummer yang emang mainnya belum jago kayak mereka-mereka yang udah senior :D

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.