Fakta bahwa Pria lebih terjajah dari pada Wanita #3

March 29, 2010 at 11:50 pm (My Opinion)

Fakta 3 :

Pria selalu dianggap lebih kuat dalam hal tenaga. Oleh karena itu, jika ada pekerjaan berat atau pun barang bawaan yang berat, selalu dilimpahkan kepada Pria.

Sebenernya ini hal yang lumrah sih, pria juga gak bakal tega kalo ngebiarin ada cewek bawa barang yang terlalu berat. Tapi ini akan menjadi bahaya jika nanti dijadikan sebagai kelumrahan (bukan kelurahan loh). Mungkin bisa saja ada saatnya Pria memang sedang tidak dalam kondisi bagus, tapi mungkin karena alasan gengsi, “cowok kok gitu sih?? Bawa barang segitu aja nggak bisa, masa minta tolong sama ceweknya?”

Nah, itu barulah berbahaya…

Permalink Leave a Comment

Fakta bahwa Pria lebih terjajah dari pada Wanita #2

March 15, 2010 at 4:01 pm (My Opinion)

Ini adalah lanjutan dari postingan yang berjudul “Fakta bahwa pria lebih terjajah dari pada wanita #1″

Berikut ini adalah beberapa Fakta bahwa pria lebih terjajah dari pada wanita dalam beberapa hal.

Fakta 2 :

Pria tidak bisa seperti wanita yang bisa menyelesaikan proses negosiasi dengan mengumbar pesonanya.

Ini gue liat sendiri misalkan dalam kasus razia polisi (maaf ya kalau bawa-bawa aparat di sini). Contoh, ada pria yang kena tilang, apapun alasan dari si pria itu, tetap aja dia kena TILANG. Nggak ada ampun, gak ada toleransi.

Beda halnya dengan ketika ada wanita yang kena razia dengan alasan yang sama. Si wanita bisa saja mengelak dengan gayanya yang khas dan mencoba untuk merayu aparat itu. Temen gue ada yang lolos dari razia dan nggak kena tilang, padahal dia nggak ada SIM ketika itu. Malahan si aparat bilang dengan senyum-senyum, “ya udah mbak, lain kali jangan diulangi ya”. Dan temen gue itu pun melenggang dengan tawanya. Coba kalo pria yang begitu, malah bisa diplototin sama tuh aparat. Lagi-lagi, daya tarik seksual lah yang bisa mempengaruhi tingkat keberhasilan sebuah negosiasi.

Permalink 2 Comments

Fakta bahwa Pria lebih terjajah dari pada Wanita #1

March 15, 2010 at 3:51 pm (My Opinion)

Sekarang ini banyak wanita yang mengeluh karena merasa selalu di-nomer dua-kan setelah pria dalam berbagai hal. Maka dari itu sejak dahulu kala kita pasti ingat akan sebuah ungkapan yang berbunyi “wanita dijajah pria sejak dulu”. Maka dari itu, gaung adanya persamaan gender saat ini semakin gencar dengan istilah emansipasi wanita.

Tapi menurut gue, nggak begitu juga seharusnya. Kita semua (baik pria maupun wanita) mempunyai kodrat masing-masing. Ada yang bisa dilakukan pria, namun tidak bisa dilakukan oleh wanita. Begitu pula sebaliknya. Semua sudah ada pada jalurnya sendiri-sendiri.

Berikut ini adalah beberapa Fakta bahwa pria lebih terjajah dari pada wanita dalam beberapa hal.

Fakta 1 :

Pria tidak bisa leluasa untuk menangis, yang dalam hal ini untuk mengungkapkan perasaannya.

Berbeda dengan wanita yang secara sadar atau tidak, mereka memiliki keleluasaan untuk menangis di mana saja dan kapan saja. Masyarakat sekitar pun yang dalam hal ini merupakan kontrol sosial dari seorang manusia akan menganggapnya itu sebagai sesuatu hal yang wajar. Coba bayangin deh kalo kita ngeliat ada cowok nangis di tempat umum, misalnya sambil meluk temennnya (dengan catatan menangis bukan karena keadaan sedih seperti kematian). Nah, kecuali yang itu, pria hanya diberi batas kewajaran ketika menangis di lokasi pemakaman. Sisanya seorang pria harus “selalu” terlihat tegar dan kuat. Tidak boleh menangis atau pun cengeng. Padahal pria pun punya hati yang lembut seperti wanita. Sama, kita semua sama. Kita semua sama-sama manusia.

Permalink Leave a Comment

Penggunaan yang salah terhadap pembersih tangan

March 12, 2010 at 10:43 am (My Opinion)

Belakangan ini gue perhatiin kayaknya ada yang salah deh dengan orang yang memakai gel pembersih tangan setelah mereka makan. Gue emang bukan termasuk orang yang memakai produk itu, dan sebelumnya juga kalau pun gue pake, itu pasti gue minta sama temen gue yang kebetulan makan bareng-bareng. Gue cuma ngikutin temen gue itu aja cara pakenya, yaitu SETELAH makan. Betul juga sih, setelah kita makan kan tangan kita jadi kotor, apalagi kalo makannya langsung pake tangan, udah gitu makan di rumah makan Padang. Wah, tuh tangan pasti udah gak karuan wujudnya. Terkadang cuci tangan dengan air biasa aja gak bisa ngilangin bau yang udah terlajur menempel di kulit tangan. Dan gue saat itu berpikir bahwa gel pembersih tangan itu multifungsi, selain untuk membersihkan tangan dari kotoran dan kuman, juga sebagai pengharum tangan.

Lalu, sekarang gue berpikir kenapa juga kita memakai gel pembersih tangan itu setelah makan aja??? Padahal nih ya, sebelum kita makan pasti kan tangan kita gerilya ke mana-mana dulu. Entah itu memegang benda fasilitas umum seperti gagang pintu ruang kuliah, uang kembalian dari supir angkot, meja dosen yang kita sendiri nggak tau udah berapa orang yang ada di situ dan memegang meja itu sambil keringetan gara-gara grogi bimbingan skripsi, sampai ke urusan yang paling privat sekalipun seperti, Ngupil!!! Dan semua aktivitas itu adalah sarana pengangkut yang sangat baik bagi bakteri dan kuman untuk ngetem di tangan sebelum akhirnya masuk dengan damainya ke dalam tubuh di saat kita makan.

Nah, seharusnya di situlah fungsi dari gel pembersih tangan tadi sebelum kita makan. Tapi kenyataannya, sebelum makan kita malah mempercayakan tangan kita kepada air kobokan. Kecuali sih sebelum makan kita cuci tangan dulu dengan sabun. Tapi itu pun sangat jarang dilakukan.

Cuma satu hal sih yang gue masih belum tau. Produk gel pembersih itu cukup aman atau nggak jika tertelan masuk ke dalam tubuh?? Jika nggak berbahaya, berarti apa salahnya kalau kita merubah pola pembersihan tangan kita, yaitu gunakanlah sebelum makan, bukan SETELAH makan. Karena jika dilakukan setelah makan, gue pikir itu perbuatan sia-sia juga (yah paling satu-satunya keuntungan adalah tangan kita kembali wangi lagi, bahkan lebih wangi sebelum kita makan). Setelah makan tangan kita akan beraktivitas seperti sebelum makan tadi dan akan bertemu kuman dan bakteri sama halnya seperti sebelum kita makan.

Permalink Leave a Comment

Blog kontroversial (emangnya cuma buku aja yg bisa kontroversial)

January 9, 2010 at 8:26 pm (My Opinion)

Barusan gue dikirim link blog yang menurut gue aneh bin ajaib. Maksudnya??? Itu blog isinya cuma provokasi dan sangat berbau SARA. Lebih dari itu, mungkin ini akan memicu kemarahan dari umat beragama terbesar di Indonesia. Nih link salah satu postingan di blog itu yang dikirim ke gue http://beritamuslim.wordpress.com/2009/12/10/3-bukti-logis-faktual-allah-swt-bukan-tuhan/

Dari judulnya aja mungkin udah pada bisa nebak kayak apa tuh isi dari blog ntu. Tapi mohon ditanggapi dengan cerdas dan bukan dengan emosi. Mari membaca dan pelajari, bukan membantah dengan cacian atau menghina. Kalau sampe kita terpancing amarahnya karna membaca blog itu, berarti kita sama bodohnya dengan yang menulis blog itu.

Kalo gue sendiri jujur aja, ketika gue baca postingan blog itu, gue semakin terpacu untuk lebih mendalami dan mempelajari lagi agama yang saat ini gue anut,  bukan karena gue terpengaruh tulisan di blog itu, tapi karena gue mau menyakini aja kalo agama yang gue anut sekarang itu BENAR adanya. Kalo yang mau langsung ke home nya blog itu nih gue kasih link nya http://beritamuslim.wordpress.com/

Permalink Leave a Comment

Dunia Real vs Skripsi

November 23, 2009 at 9:55 am (My Opinion)

Ini adalah cerita tentang gue dan temen-temen gue yang mempunyai satu kesamaan, yaitu Skripsi. Ini bukan cerita tentang menderitanya kami menghadapi skripsi dan pada akhirnya jadi kompak. Bukan….

Dan bukan juga tentang kesuksesan kami dalam menggarap skripsi. Bukan…. Kenyataan yang ada, diantara kami ada yang udah lulus, ada yang masih belum. Gue masuk ke dalam golongan yang kedua.

Ini cuma sekedar cerita dari satu orang ke orang lain. Dan gue sama temen-temen gue itu baru nyadar satu hal, yaitu tema skripsi yang kami ambil itu sebenernya representasi dari kehidupan pribadi masing-masing.

Oke, mungkin hal ini nggak semuanya bener, toh kenyataannya di dalam pertemanan gue sama temen-temen gue ini ada yang namanya saling hujat menghujat tentang tema skripsi juga. Jadi tema skripsi yang diambil bisa dijadiin ajang ejek-mengejek. Huuuummmm,, memang mengasikkan berteman dengan mereka,, huuueeeekkkkk…..

Kisahnya mau gue tuturkan seperti sebuah cerita di dalam cerpen, karna sesungguhnya nggak semua dari temen-temen gue ini setuju kok dengan gagasan yang akan gue tulis ini.

Kesamaan dunia nyata dengan tema skripsi.

Jadi begini, gue dan kelompok temen gue itu (yang kesemuanya sudah memasuki gerbang skripsi), bikin lelucon bahwa tema skripsi yang kami ambil secara sadar atau nggak, itu cerminan dari ambisi kehidupan pribadi, atau bisa juga kalaupun bukan, tetapi setelah selesai mengerjakan skripsi, secara sadar atau nggak (juga), bisa berpengaruh ke kehidupan nyata.

Intinya, gue sama temen-temen gue itu mau bikin sebuah mitos (jika tidak berlebihan) atau ya mungkin sebuah kesepakatan bahwa skripsi vs kehidupan nyata memiliki benang merah yang sangat erat.

Cerita dimulai.

Temen gue, sebut saja si Raden. Dia ini terobsesi banget sama musik Blues, dan pengen banget jadi gitaris Blues. Tapi apa daya, dia nggak mampu. Gue sebagai temen sebenernya yang pertama kali ngajak dia maen ke studio musik pas kami baru sama-sama kuliah di Jogja. Dari situ lah mulai keliatan kalo dia tertarik dengan dunia Blues, tapi tetep gagal terus. Obesesi ada, kemampuan terbatas. Akhirnya, dia menggarap skripsi dengan tema kehidupan Blues di Homesick (nama tempat salah satu cafe yang menyajikan musik blues pada waktu-waktu tertentu).

Kedua, temen gue sebut saja dia si Ara. Dia ini seorang penyiar di salah satu radio yang bertempat di pusat kota Yogyakarta. Tema skripsi yang dia ambil yaitu tentang trend anak-anak penyiar radio. Gue lupa sih tepatnya tema apa yang dia ambil, tapi secara garis besar dia mengangkat citra seorang penyiar radio terhadap kehidupan di sekitarnya. Jadi, misal dari cara penyiar berpakaian yang disesuaikan dengan jenis radio yang menjadi tempatnya bekerja. Wah, itu kan si Ara banget, di mana dia mesti berpenampilan sebagai mana mestinya anak-anak radionya dia.

Nah, cerita berikutnya yaitu dateng dari adek angkatan gue. Sama persis dengan tulisan gue ini.

Pertama, sebut saja dia Bajul. Dia ini adek angkatan gue, tapi udah akrab banget sama gue, malah pernah maen band bareng. Dia ini paling bermasalah dengan yang namanya cinta. Udah bertahun-tahun dia nggak menyentuh wanita (jyaaaah, bahasanya). Intinya nyaris jomblo abadi. Sampai suatu ketika dia akhirnya menemukan dan bisa membuat salah satu adek angkatannya kelilipan. Skripsi yang dia ambil bertema “cintaku di kandang antropologi”. Itu jelas dan nyata sekali berhubungan dengan kehidupan pribadinya. Gue lupa entah mana duluan yang saling mempengaruhi apakah tema skripsi dia duluan yang muncul yang akhirnya membuat dia bisa melepaskan jubah kejombloannya, atau malah sebaliknya??

Berlanjut ke adek angkatan gue yang laen, namanya Goras. Dia ini paling bisa menirukan suara dan gaya aktris film horror Suzana. Kalo dengerin dia pas niruin gitu, widiiiih serem juga ngebayanginnya. Nah, berkaitan dengan kemampuannya itu, gue juga gak yakin apa dia nyadar atau nggak dalam memilih tema skripsi, tapi dia memilih tema skripsinya tentang dunia orang hidup dan dunia orang mati. Dan tau gak?? Ternyata penelitiannya itu ya di kampung orang yang masih “hidup”, dan di kampung orang yang sudah “mati” alias kuburan. Gileeee tuh anak, segitu menghayatinya dan segitu dekatnya dia dengan dunia seperti itu.

Okay, lanjut sekarang ke bagian yang serunya. Di sini gue sama temen-temen gue mengesankan atau apa yaa bahasanya?? Mungkin membuat sebuah cerita sendiri atau meyakinkan sesuatu yang ada di alam bawah sadar. Oke, gini aja deh, gue cerita aja, bingung kalo ngejelasin ini apaan.

Temen gue, sebut saja namanya B’Dhes yang juga menjadi pejuang skripsi (tapi sampai tulisan ini dibuat, dia udah lulus). Kehidupan dia sih biasa-biasa aja, dan gue serta anak-anak yang laen kagak tau juga awalnya dia mau ngambil tema skripsi apa (waktu dulu pas sama-sama baru mulai garap). Hingga suatu hari semua orang kaget (termasuk gue), dia ngambil tema skripsi tentang Musik Dangdut di Purawisata, salah satu tempat yang sering menyelenggarakan musik dangdut di Yogyakarta. Pada waktu itu, gue sama temen-temen emang belum mencetuskan ide bahwa skripsi itu ada kaitannya dengan dunia nyata penulisnya. Tapi belakangan ini jadi senjata ampuh buat ngece (meledek.red) dia dengan bilang bahwa sebenernya, dan ternyata, hasrat yang terpendam dia serta bakat dalam hidup dia adalah dunia Dangdut. Apa dia nerima pernyataan itu?? Ya JELAS NGGAK, dia malah ngamuk-ngamuk kalo setiap diledekin bahwa musik dangdut adalah dunia real dia,hahahaha…. Dan akhirnya setiap ada acara bareng, atau ada apapun, si B’Dhes ini selalu dikaitkan dengan musik dangdut. Entah pas di foto dia berpose seperti penyanyi dangdut, entah setiap dengerin lagu dia pasti di suruh nyanyi lagu dangdut, pokoknya all about dangdut is Her :) )

Ada lagi temen gue yang laen, sebut saja namanya Ris. Dia ini penampakannya emang kayak preman pasar, cuma dia bisa masuk kampus aja jadi tetep mahasiswa :D  Nah, dia ini ngambil tema skripsinya tentang praktek percaloan di stasiun Yogyakarta. Awalnya dia mau menyinggung tentang preman-preman di stasiun gitu, tapi akhirnya dia  milih tema yang berkaitan dengan “black market” ala stasiun. Gue sama temen-temen gue juga selalu mengkait-kaitkan dia dengan lingkungan preman gitu. Apalagi dia penelitiannya selalu bolak balik stasiun dan tempat ngumpulnya preman dan calo stasiun yang ada di pinggir-pinggir jalan depan stasiun. Ya udah deh, akhirnya si Ris itu kita sebut sebagai preman yang meneliti tentang preman, atau bisa juga dibilang karna dia ada tampang preman, jadi dia bisa neliti tentang itu, hahaha….

Yah begitulah cerita tentang temen-temen gue yang unik-unik dan ajaib. Bagaimana dengan gue sendiri? dan kisah perjalanan skripsi gue? apakah mencerminkan kehidupan nyata gue?? eeemm,, gue nggak mau bahas di sini, tapi ada salah satu temen gue yang bilang kalo skripsi gue juga cerminan dari kehidupan real gue yang selama ini gue pertanyakan, hahaha… Menarik lah pokoknya :D

Permalink 2 Comments

Apakah jika menikah harus benar-benar mapan?

October 15, 2009 at 5:15 pm (My Opinion)

Beberapa waktu lalu gue ngobrol-ngobrol sama temen-temen gue tentang “Bagaimana sih mulai membangun masa depan yang baik, terutama dalam hal membangun rumah tangga sendiri?”

Wah, mungkin tema ini terlalu dini ya, terutama buat gue sendiri,hehehe… Tapi semenjak liburan lebaran kemaren, gue tuh sedikit mulai sedikit “diperlihatkan” betapa sulitnya membina keluarga. Gak usah jauh-jauh, gue liat sendiri dari perjuangan babeh sama emak gue sendiri. Oleh karena gue juga anak pertama, jadi ortu udah nganggep gue dewasa dan mesti tau sedikit demi sedikit perihal tentang hidup mandiri dan memulai kehidupan sendiri.

Obrolan tentang hal ini dimulai ketika salah satu temen gue (cowok) bilang kalau salah satu temennya dia yang cewek mengharapkan kalau nanti punya calon suami, dia maunya yang udah mapan secara materi. Sejak cerita itu gue jadi berpikir dan punya beberapa opini tentang hal itu.

Balik lagi berkaca kepada pengalaman ortu. Suatu ketika pas keluarga besar gue kumpul-kumpul. Uwak (bahasa Sunda, dalam bahasa Indonesia kakak dari orang tua kita) gue bilang, bokap gue dulu nekat nikahin nyokap gue cuma modal celana pendek doank. Okay itu emang sekedar guyonan. Tapi pelajaran yang bisa diambil yaitu, betapa simpelnya pemikiran orang tua kita dulu. Mereka mau menikah ya karna mereka mau membina dan memasuki fase kehidupan yang baru. Angan-angan mereka nggak muluk-muluk. Dan alhamdulillah, sekarang cerita tentang celana pendek itu hanya sekedar cerita. Bokap gue lumayan sukses membangun rumah tangganya dan bisa membesarkan ketiga anak-anaknya sampe bisa sekolah di tempat yang lumayan bagus.

Lalu, nyokap gue?? Yaaaa, jangan dikira dia nggak ada kontribusinya. Justru dialah tokoh di balik kesuksesan bokap gue. Dia selalu setia menemani bokap di saat susah maupun senang. Kesimpulan gue, mereka cukup bahagia sekarang. Di mulai dari nggak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Namun sekarang, mereka punya apa yang diinginkan bahkan mungkin nggak pernah terpikir oleh mereka dulu ketika menikah. I’m proud of them.

Balik lagi ke tema yang gue mau ulas di sini. Menurut cerita dari temen gue tadi tentang temen ceweknya yang kalo gue bilang, “terlalu banyak maunya” itu. Pada masa sekarang segala sesuatunya sudah berubah, termasuk berbagai pemikiran tentang berumah tangga.

Pertanyaan yang mau gue ajuin di sini. Sebenernya apa sih yang menuntut pria harus mapan ketika menikah??

Jawabannya, menurut gue pemikiran pria saat ini udah sangat kompleks. Para pria sekarang udah berpikir sangat jauh ke depan, sehingga pusing sendiri ketika sudah saatnya dia memasuki tahap kehidupan berumah tangga. Para pria berpikir terlalu tinggi dan muluk. Pria ingin mapan dan setelah itu baru siap untuk berumah tangga. Padalah pria seperti itu lupa satu hal. Semua kesuksesan itu tidak begitu saja didapatkan, itu butuh proses yang panjang dan harus dimulai dari bawah.

Oke, tapi ternyata ada alasan kenapa pria berpikir begitu. Mari kita liat dari sisi wanita. Ternyata menurut temen gue itu, temen ceweknya banyak yang berangan-angan ingin memiliki pria yang mapan ketika nikah nanti. Jadi, keadaan ini ibaratnya sebab akibat. Kenapa pria berpikir menikah itu harus udah bener-bener mapan? Ya karena sekarang ini kebanyakan wanita (tidak semua) itu berpikir ingin memiliki calon suami yang sudah mapan.

Kalau menurut gue, ada hubungan yang kurang enak di sini. Pada akhirnya semua pihak akan repot. Si pria akan repot meningkatkan nilai jual dia dengan kesuksesan yang menurut gue Cuma Mimpi Sukses di Usia Muda. Dan si wanita bakal repot dan kelimpungan nyari-nyari cowok yang sudah mapan yang siap nikahin mereka. Beberapa contoh yang bisa kita liat, akhirnya gak sedikit kan kita liat fenomena pernikahan antara wanita muda dengan pria yang separuh baya tetapi pria itu memang udah bener-bener sukses secara materi.

Dari contoh itu gue nggak mengklaim bahwa wanita itu materialistis. Ya walaupun mungkin sebagian yang begitu memang iya. Tapi gue positif aja, gue melihat pihak si wanita itu membutuhkan sesuatu yang bisa menjamin hidup dia. Walaubagaimana pun, gue nggak menafikkan pernyataan bahwa menikah itu nggak cuma sekedar cinta. Menikah butuh materi. Dan kebutuhan materi itu sudah sangat manusiawi.

Namun, di sini gue coba untuk keluar dari permasalahan itu. Gue nggak mau terjebak dengan trend “mapan materi”. Maksud gue, menikah memang butuh materi, tetapi kalau untuk sukses dan mapan seutuhnya seperti yang dibayangkan oleh wanita selama ini, itu ntar dulu.

Setelah gue ngobrol-ngobrol dengan temen-temen gue. Ternyata ortu mereka juga sama. Intinya ortu gue dan temen-temen gue (yang faktanya ortu kami adalah pasangan-pasangan yang hidup di era yang sama), nggak terlalu pusing dan berpikir terlalu ideal untuk memulai rumah tangga mereka. Hasilnya, mereka tergolong cukup sukses membina rumah tangganya. Maksudnya, mereka bisa membangun semua kehidupan dari Nol. Mereka berpikir simpel dan sederhana, maka permasalahan yang mereka hadapi ketika memulai berumah tangga juga tidak terlalu banyak.

Pendapat gue, mengapa hal seperti itu nggak kita contoh?

Kita adalah generasi yang penuh mimpi-mimpi yang terlalu muluk. Pengandaian gue justru begini, katakanlah ada seorang wanita yang menginginkan pria mapan untuk dinikahinya. Lalu, dia dipertemukan oleh pria itu yang punya segalanya secara materi. Menikahlah mereka. Namun di tengah jalan pernikahan mereka, ada sebuah masalah besar yang membuat pernikahan mereka diambang kehancuran. Nah, kalau dilihat secara sederhana, posisi siapa yang bakal terancam secara ekonomi dalam rumah tangga itu?

Jawabannya, Si Wanita. Mengapa?

Dari awal, si wanita hanya membawa dirinya saja. Diri yang dalam arti sebenarnya. Sedangkan si Pria, dia  membawa 2 hal. Dirinya sendiri dan materinya. Ketika si Pria merasa rumah tangganya sudah tidak bisa dipertahankan, dia bisa membawa pergi 2 hal yang dia bawa ketika awal pernikahannya dulu. Sedangkan wanita, dia hanya bisa meratapi kepergian si pria tanpa meninggalkan sesuatu apapun untuk dia karena bisa dikatakan “kontrak” dia dengan pria itu telah selesai.

Namun, coba kita lihat pengandaian yang lain.

Ada seorang wanita dan pria yang mau menikah. Pemikiran mereka simpel, mereka mau menikah ya karena mereka ingin menjalani fase kehidupan yang baru. Terlepas dari angan-angan yang terlalu tinggi, mereka memulai segalanya dari Nol. Walaupun tetap saja si Pria sudah memiliki pegangan, tetapi tidak terlalu mapan seperti yang dibayangkan kebanyakan orang saat ini. Lalu katakanlah, kehidupan rumah tangga mereka sedikit demi sedikit meningkat menjadi mapan seperti yang diharapkan kebanyakan orang. Dan akhirnya mencapai satu tingkat yang bisa dibilang, “SUKSES”.

Kita lihat di sini. Ketika orang nanya, kesuksesan pasangan tersebut atas usaha siapa? Pasti jawabannya, BERDUA. Dan ketika mereka menghadapi masalah besar, maka apa yang telah mereka dapatkan, itu hak siapa? Pasti jawabannya, BERDUA.

Artinya, Walaubagaimanapun membangun sebuah rumah tangga itu lebih baik dijalani berdua. Susah berdua, dan senangpun berdua.

Gue sendiri masih yakin dengan ungkapan, “Dibalik kesuksesan seorang pria, Pasti ada seorang wanita HEBAT di belakangnya”. Ungkapan itulah yang bisa membuat rumah tangga sebuah pasangan menjadi awet dan langgeng. Mereka akan selalu ingat bahwa apa yang mereka dapatkan setelah menikah adalah usaha dan jerih payah berdua.

Permalink 1 Comment

Premanisme berkedok “orange”

October 7, 2009 at 2:29 pm (My Opinion)

Tadi gue abis beli makan di pinggir jalan, pake motor. PARKIR

Nah, inilah yang mau gue ceritain di postingan kali ini. Sebenernya ini udah unek-unek gue dari lama, yaitu mengenai sistem perparkiran. Cuma nggak tau kenapa baru sekarang gue niat buat nulisnya. Pokoknya baca aja dulu nanti diakhir juga bakal tau kenapa ahirnya gue nulis juga.

Seperti biasa, pas selesai gue beli makan, gue ambil motor dan lagi-lagi untuk ke-sekian ratus kali, gue kok ngerasa rada ngeganjel ya buat bayar parkir.

Okay, sebelumnya gue jelasin dulu pemikiran gue yang menurut gue bisa dinalar dan logis.

Begini,

- Pertama, parkir adalah sebuah pekerjaan. Maka dari itu, juru parkir adalah pekerja.

- Kedua, yang namanya seorang pekerja, menjadi apapun dan dimanapun pasti mengeluarkan sesuatu yang bisa disebut jasa atau “hasil”, dan dengan begitu pekerja itu dibayar atau mendapat upah.

- Ketiga, kita parkir dengan maksud kendaraan kita lebih aman dan tertata dengan rapi.

- Keempat, karena parkir menurut gue adalah salah satu dari pekerjaan, maka segala sesuatunya harus jelas.

Nah, dari poin-poin yang gue sebut diatas, rasanya dunia perparkiran kita masih jauh dari itu semua. Setidaknya menurut gue.

Gue ambil contoh dari pengalaman gue yang banyak banget bersitegang dengan tukang parkir (pengalaman ini diambil di daerah Jogja karna gue tinggal di situ sampai sekarang).

Kenyataan yang gue alami:

- Tidak sedikit tukang parkir yang tidak mengikuti aturan perparkiran. Misal, tidak adanya karcis parkir. Selain itu banyaknya tukang parkir liar yang secara teknis, sebagai contoh saja, dia tidak memakai seragam parkir dan tidak memiliki karcis. Jadi asal di situ ada lahan di depan tempat makan, ya sudah dengan seenak udelnya aja dia maen matok lahan parkir.

- Pernah ada kejadian aneh (tapi sudah jadi rahasia umum di beberapa tempat di jogja), di karcis tertulis Rp 500,00 tetapi si tukang parkir meminta uang Rp 1.000,00 dan ketika saya protes dia cuma bilang “ya itu cuma tulisan aja mas, tapi tarifnya seribu”. Oh, shit!! apa-apaan ini??

- Okay, kalau masih seribu oke lah, gue juga nggak mau terlalu meributkan hal itu walau menurut gue itu tetep SALAH. Lanjut ke kasus berikutnya dan ini yang kadang-kadang sering terjadi keributan antara pengendara dengan tukang parkir. Kalau diperhatiin, coba deh di baca di salah satu sudut karcis parkir, terkadang ada tulisan begini, “segala kerusakan atau kehilangan bukan tanggung jawab kami”. Oh, DAMM!! ini lebih gila lagi menurut gue, Hey Bung, gue ini parkir supaya kendaraan gue AMAN, dan buat apa lo semua di bayar kalo bukan untuk ngejaga kendaraan yang gue parkir?? Emang lo kira tanah di atas kendaraan gue parkir, tanah nenek moyang lo apa????

Satu contoh lagi, dan ini yang bikin gue jengkel juga dan rada gemes. Kalo yang ini kasusnya sama tukang parkir liar yang dalam hal ini gue sebut dengan Premanisme Berkedok “Orange”. Dia emang pake baju parkir, tapi beberapa ada yang nggak pake baju parkir dan itu bisa dibilang cuma orang biasa aja yang numpang cari untung.

Begini, kronologis ceritanya, gue makan di lesehan pinggir jalan katakanlah. Gue otomatis parkir tuh motor di depannya donk.

Kagak ada orang, dalam hal ini orang yang terlihat sebagai tukang parkir.

Pas gue selesai makan, terus gue ambil motor gue, tiba-tiba dari ujung sana ada yang lari-lari kecil, dan kurang ajarnya dia cuma diri DIAM di samping gue sambil nunggu uang dari gue.

HOY,, anjiiiiiirr… maksudnya apa? (walau gue udah ngerti sih dia di situ “merasa” sebagai tukang parkir). Tapi coba diliat deh, semua poin yang gue sebut di awal tulisan ini kagak ada di dia.

Dia nggak terlihat sebagai tukang parkir dengan karcis parkirnya, dan yang bikin gue gemes setengah mati, dia cuma diem nunggu duit dari gue, tanpa ada kontribusi apa-apa, kayak misalnya bantu keluarin motor atau bantuin nyebrang jalan. PARAHNYA lagi, gue pernah nemu yang kayak gitu, dan pas gue kasih uang Rp 500,00 dia nggak mau dan minta Rp 1000,00

Wah, gila gue mikir, enak banget ya jadi dia, kok bisa gampang banget cari duit kalo gitu caranya. Pertama, dia maen matok lahan aja tuh tanah depan tempat makan, tanah dia bukan, dan mungkin dia juga nggak izin ke pemerintah tentang aktivitasnya di atas lahan itu (gue sih udah tau itu), biarpun dia berdalih apapun. Kedua, dia itu ibarat PREMAN yang tiba-tiba dateng dan minta duit ke gue, tetapi dia pake cara yang bisa bikin orang tertipu, yaitu dengan cara “jadi tukang parkir”.

Iya donk, penjelasan gue logis kalau sampai gue bilang dia itu preman berkedok tukang parkir, jasa dia mana??? jasa yang bisa bikin orang lain sampai memberi upah atas pekerjaannya itu, lah nyentuh motor gue barang sedikitpun nggak kok.

Oke, satu catatan penting di sini, Memang tidak semua tukang parkir seperti yang ceritain di atas. Percaya atau nggak, sebegitu bencinya gue sama tukang parkir, tapi ada satu tukang parkir yang gue temuin (gue lupa tempatnya, tapi itu kira-kira di depan tempat makan juga) yang bikin gue jadi iba.

Dia orangnya super ramah, dan gue baru nyentuh motor gue dikit aja, dia langsung tanggap bantuin motor gue keluar dari himpitan motor-motor yang lain. Pas gue kasih uang, dia langsung bilang terima kasih (itu juga tuh hal yang jarang diucapkan tukang parkir, yaitu bilang Terima Kasih). Pengucapan terima kasihnya itu yang nggak bisa gue gambarin lewat tulisan ini saking sopannya dan sangat menghargai gue sebagai “penyewa” lahan parkirnya.

Gue sampe bilang ke temen gue, gila ini tukang parkir tersopan pertama yang gue temuin dan dia bener-bener melakukan pekerjaannya sebagai juru parkir yang amat sangat baik.

Terakhir, gue mau ngasih tau alasan kenapa akhirnya gue tulis juga unek-unek ini. Kemarin waktu gue pulang ke Bogor. Ceritanya gue pergi naek motor bareng adek gue yang perempuan ke salah satu mini market deket rumah. Di situ memang ada parkir, tetapi ya itu dia sama kayak yang gue temuin di sini (Jogja), dia nggak pake karcis parkir (bisa dibilang parkir liar yang dilakuin sama orang-orang sekitar mini market itu).

Oleh karena gue rada sebel sama tukang parkir (berdasar pengalaman buruk gue selama di JOgja), dan menurut gue parkir motor itu harganya Rp 500,00 merunut di keadaan di Jogja, ya udah gue kasih aja ke adek gue itu duitnya terus nyuruh dia ngasih ke tukang parkir liar itu, abis dari pada ngeganjel kalo gue yang ngasih.

Tapi adek gue bilang gini, “Loh A, kok cuma lima ratus? kan parkir seribu”. Dalam hal ini gue juga emang lupa, kalo di Jabotabek sana parkir mana ada sih yang lima ratus? Semuanya rata-rata udah seribu, Jogja aja yang masih rada murah.

Tapi gue bilang ke adek gue itu, “udahlah gak apa-apa, dia juga bukan tukang parkir beneran kok, waktu itu Aa ngasih segitu diterima-terima aja, kan emang gak ada karcisnya, ya bodo amat”. (sekali lagi gue ngomong gitu karna kebayang-bayang betapa menyebalkannya tukang parkir di Jogja yang gue ceritain di atas).

Gue keluar duluan, dan adek gue kok nggak keluar-keluar??? Ternyata dia nggak keluar, karna dia lagi nyari duitnya di kantong yang seribu rupiah, dan dituker lah duit yang gue kasih tadi dengan duit seribu punya dia, dan dia akhirnya ngasih seribu ke tukang parkirnya.

Kemudian dia menghampiri gue dan dengan lembut dia bilang ke gue, “kasian A, dia nggak ada yang bayar (maksudnya adek gue dari pihak mini market emang nggak ada yang menggaji dia), kalo bukan kita siapa lagi? Tadi Neng kasih seribu aja”.

Oh, lagi-lagi gue mesti bilang, Damm, shit!! Tapi kali ini untuk alasan yang berbeda, mulia banget hati adek perempuan gue itu. Gue sampe tersentuh sama kata-kata dia. Ya walau dia belum tersentuh faktor X yang gue alami selama di Jogja yaitu dia belum pernah nemuin tukang parkir yang nyebelin kayak waktu gue bersitegang sama beberapa tukang parkir di Jogja.

Tapi diluar itu, kata-kata dia yang bikin gue coba untuk belajar lagi untuk menempatkan hal pada tempat yang tepat. Itulah kenapa akhirnya gue tulis cerita tentang ini. Sampai sekarang juga gue masih coba untuk lebih mengerti tentang hal ini.

Salam,

Blimbing sari, Yogyakarta

Permalink Leave a Comment

Gadis cantik untuk pria kaya & yang ngerti accounting amortization aja

July 15, 2009 at 11:49 am (My Opinion)

Gadis cantik untuk pria kaya

Surat dari cewek cantik yang ingin mendapatkan pria kaya yang
dimuat di suatu majalah. Suratnya ditanggapi oleh seorang pria kaya
dengan serius. Bagus kata-katanya dan jangan lupa lihat nama pria yang
membalas suratnya.
Seorang gadis muda dan cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah
terkenal, dengan judul:

“Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”

Saya akan jujur, tentang apa yang akan coba saya katakan di sini. tahun ini
saya berumur 25 tahun.

saya
sangat cantik, mempunyai selera yang bagus akan fashion. saya ingin
menikahi seorang pria dengan penghasilan minimal $500ribu/tahun. anda
mungkin berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/tahun hanya
dianggap sebagai kelas menengah di New York. persyaratan saya tidak
tinggi. apakah ada di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun?
apa kalian semua sudah menikah? yang saya ingin tanyakan: apa yang
harus saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti anda? yang terkaya
pernah berkencan dengan saya hanya $250rb/tahun. bila seseorang ingin
pindah ke area pemukiman elit di City Garden New York, penghasilan $
250rb/tahun tidaklah cukup.
dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan:
dimana para lajang2 kaya hang out?
kisaran umur berapa yang harus saya cari?
kenapa kebanyakan istri dari orang2 kaya hanya berpenampilan standar?

saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak
menarik, tapi mereka bisa menikahi pria kaya?
bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa yang
hanya bisa menjadi pacar?

ttd.
Si Cantik
———— ——— –

Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Finansial Wall Street:

saya
telah membaca surat mu dengan semangat. saya rasa banyak gadis2 di luar
sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. ijinkan saya untuk
menganalisa situasi mu sebagai seorang profesional.
pendapatan tahunan saya lebih dari
$500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap semuanya tidak berpikir saya
main2 di sini. dari sisi seorang bisnis, merupakan keputusan salah
untuk menikahimu. jawabannya mudah saja, saya coba jelaskan, coba
tempatkan “kecantikan” dan “uang” bersisian, dimana anda mencoba
menukar kecantikan dengan uang: pihak A menyediakan kecantikan, dan
pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk akal. tapi ada masalah disini,
kecantikan anda akan menghilang, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa
ada alasan yang bagus. faktanya, pendapatan saya mungkin akan meningkat
dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan bertambah cantik tahun demi
tahun.
Karena itu, dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan
meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. bukan hanya
penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.
jika hanya (kecantikan) itu aset
anda, nilai anda akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. dari
aturan yg kita gunakan di Wall Street, setiap pertukaran memiliki
posisi, kencan dengan anda juga merupakan posisi tukar. jika nilai tukar
turun, kita akan menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpan dalam
jangka lama, seperti pernikahan yang anda inginkan. mungkin terdengar
kasar, tapi untuk membuat keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai
depresiasi besar akan di jual atau “disewakan.” siapa saja dengan
penghasilan tahunan $500rb, bukan orang bodoh, kami hanya berkencan
dengan anda, tapi tidak akan menikahi anda.
Saya akan menyarankan agar anda
lupakan saja untuk mencari cara menikahi orang kaya. lebih baik anda
menjadikan diri anda orang kaya dengan pendapatan $500rb/tahun. ini
kesempatan lebih bagus daripada mencari orang kaya bodoh. mudah2an
balasan ini dapat membantu. jika anda tertarik untuk servis “sewa
pinjam,” hubungi saya.

ttd,
J.P. Morgan

NB: Ini gue ambil dari postingan di milis. Dan menurut gue ini bagus banget buat dijadiin pelajaran. Dan ingat, “Cantik bukan segalanya”.

Permalink Leave a Comment

Ide perubahan sistem mengantri Tiket Nonton

July 15, 2009 at 5:11 am (My Opinion)

Semalem gue nonton film ice age 3 di Empire XXi Jogja. Tapi siangnya gue mesti berjibaku dengan calon penonton lainnya di depan loket tiket. Karna nonton kali ini gue yang dapet giliran ngantri tiket, ya udah biar temen-temen gue kagak kecewa dan mendapatkan tempat yang cihuy pas nonton, (cielah gayanya), ya udah gue rela antri pagi-pagi ke Empire. Ternyata sampe di sana, tuh XXi belum buka. Dan baru dibuka jam 11 siang. Ya udah, gak apa-apa gue nunggu di halaman gedung itu. Tapi gue gak sendirian, ditemenin temen gue, dan puluhan orang lainnya yang emang udah nyampe di sana.

Gile ya, gedung belum buka aja, yang nunggu udah banyak. Berasa nunggu di bukanya posko penyaluran BLT. Tepat jam 11 siang, tuh pintu utama dibuka. Langsung deh pada nyelonong masuk orang-orang udah kyak bendungan air yang baru dibuka. Karna gue sigap dari awal, gue keluarin deh jurus “langkah curut” gue yang cepet, lincah, walau banyak orang gitu, hahay…

Seeeepp, nyampe lah sudah di antrian depan loket, walau posisi gue di urutan ke-5, tapi itu udah bagus banget. Lah, pas gue nengok ke belakang, anjriiit, klo diitung-itung udah ada kali 20 orang lebih dibelakang gue. Parah!!!!

Gue pikir, tinggal bentar lagi bakal dapet tiket. Ternyata salah satu petugas keamanannya bilang, “Maaf, loket baru buka jam 11.30 jadi masih setengah jam lagi. Masih lama, jadi kalau mau nanti saja antrinya, silahkan duduk dulu”. Aaahh, tidak!! Setengah jam lagi. Tapi tuh orang-orang yang ngantri tidak bergeming sedikit pun. Mereka tetep aja pada stay di tempat, ya udah mau nggak mau gue juga ngikut stay di tempat gue berdiri.

Dodol nya, malah ada seorang ibu yang ngantri tepat dibelakang gue, bilang gini, “Wah, ya udah kalo gitu, duduk di bawah aja sambil ngantri”. Yaelah Bu, plis deeee, emang nya kita lagi ngantri tiket kereta buat mudik apa???? Emang sih lantai XXi itu dari karpet, seenggaknya lebih bagus dari lantai di stasiun, tapi kan lucu aja diliatnya, kenapa gak sekalian aja kita bawa tikar trus nasi bungkus deh buat yang pada kelaparan.

Tapi berkat omongan itu ibu, gue jadi mikir, kayaknya itu ide bagus tuh buat masukan dan dikembangkan. Ide gue, begini ya:

1. Kalau XXi mau merubah sistem antrian, kenapa nggak pake sistem nomer antrian. Jadi setiap calon penonton yang datang, mereka langsung ngambil nomer antrian, kayak di bank atau rumah sakit gitu. Permasalahan dari ngantri adalah bukan semata-mata karena lamanya waktu yang dipakai ngantri, tapi PEGELNYA kaki yang dipake buat berdiri. Kalau ada no antrian kan, abis ngambil tuh nomer, bisa santai-santai dulu. Mungkin bisa nunggu sambil minum, sambil ke toilet, sambil maen game, tanpa harus kehilangan urutan antrian.

2. Kalau XXi tetap tidak ingin merubah sistem yang ada, maka dibuatlah senyaman mungkin. Misal, sediakan bangku untuk para pengantri tiket. Mungkin bangku yang dipilih yaitu bangku dengan posisi menyamping, kayak di kereta-kereta JABOTABEK gitu, hahaha… Tapi ini serius, jadi ntar para calon penonton posisi duduknya bisa menyamping, terus saling geser kesamping gitu sampai nanti berujung di depan loket tiket. Lucu kan??? Biar tuh ibu belakang gue kagak nekat ndelosor duduk di karpet. Lah ini kan tetep masalah kaki yang pegel, jadi semuanya nyaman.

Permalink Leave a Comment

Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.